MAKALAH
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
Makalah Ini Disusun Untuk Menambah Pengetahuan Tentang
Wawasan Mengenai Konflik Yang Terjadi Di Indonesia Pada Fakultas Ilmu Komputer
Universitas Nasional Pasim Bandung
Disusun Oleh :
Mira Arsita
Fakultas : Ilmu Komputer
Jurusan : Teknik Informatika
UNIVERSITAS
NASIONAL PASIM BANDUNG
2013
PENGERTIAN DAN PENYEBAB
KONFLIK
Pengertian Konflik
Secara Umum
Konflik berasal dari kata kerja latin
configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan
sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok)
dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan
menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Tidak satu masyarakat pun yang tidak
pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat
lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu
sendiri.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. Sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
Pengertian
Konflik Dalam Islam
Al-Quran adalah pedoman hidup
muslim yang tidak hanya mengatur hubungan vertikal antara manusia dengan
Tuhannya, melainkan juga mengatur hubungan antara manusia dengan lingkungannya,
terlebih khusus antara sesama manusia itu sendiri baik antar individu ataupun
kelompok sosial. Sejarah panjang peradaban manusia selalu diwarnai konflik dari
level komunitas terkecil seperti rumah tangga hingga ke tingkat menengah
seperti antara partai, golongan sampai ke komunitas terbesar antar bangsa,
agama dan negara. Konflik tersebut sering dilatarbelakangi oleh berbagai motif
dan kepentingan. Salah satu penyebabnya adalah karena hilangnya nilai-nilai
kebajikan, kemanusiaan, kedamaian dan persaudaraan antara individu atau
kelompok.
Setiap kelompok dalam
satu organisasi, dimana didalamnya terjadi interaksi antara
satu dengan lainnya, memiliki kecenderungan timbulnya konflik.
Dalam institusi layanan kesehatan terjadi kelompok interaksi, baik antara
kelompok staf dengan staf, staf dengan pasen, staf dengan keluarga dan
pengunjung, staf dengan dokter, maupun dengan lainnya yang mana situasi
tersebut seringkali dapat memicu terjadinya konflik.
Konflik sangat erat kaitannya
dengan perasaan manusia, termasuk perasaan diabaikan, disepelekan, tidak
dihargai, ditinggalkan, dan juga perasaan jengkel karena kelebihan beban kerja.
Perasaan-perasaan tersebut sewaktu-waktu dapat memicu timbulnya
kemarahan. Keadaan tersebut akan mempengaruhi seseorang dalam melaksanakan
kegiatannya secara langsung, dan dapat menurunkan produktivitas kerja
organisasi secara tidak langsung dengan melakukan banyak kesalahan yang
disengaja maupun tidak disengaja. Dalam suatu organisasi,
kecenderungan terjadinya konflik, dapat disebabkan oleh suatu
perubahan secara tiba-tiba, antara lain: kemajuan teknologi baru,
persaingan ketat, perbedaan kebudayaan dan sistem nilai, serta berbagai
macam kepribadian individu.
Konflik
Agama Yang Terjadi Di Indonesia
Sepanjang sejarah agama dapat
memberi sumbangsih positif bagi masyarakat dengan memupuk persaudaraan dan
semangat kerjasama antar anggota masyarakat. Namun sisi yang lain, agama juga
dapat sebagai pemicu konflik antar masyarakat beragama. Ini adalah sisi negatif
dari agama dalam mempengaruhi masyarakat Dan hal ini telah terjadi di beberapa
tempat di Indonesia.
Pada bagian ini akan diuraikan
sebab terjadinya konflik antar masyarakat beragama khususnya yang terjadi di
Indonesia dalam perspektif sosiologi agama.
Salah satunya adaalah konflik
antar kelompok masyarakat Islam - Kristen di Indonesia, dibagi dalam empat hal,
yaitu:
A. Perbedaan Doktrin dan Sikap Mental
Semua pihak umat beragama yang
sedang terlibat dalam bentrokan masing-masing menyadari bahwa justru perbedaan
doktrin itulah yang menjadi penyebab dari benturan itu.
Entah sadar atau tidak, setiap
pihak mempunyai gambaran tentang ajaran agamanya, membandingkan dengan ajaran
agama lawan, memberikan penilaian atas agama sendiri dan agama lawannya. Dalam
skala penilaian yang dibuat (subyektif) nilai tertinggi selalu diberikan kepada
agamanya sendiri dan agama sendiri selalu dijadikan kelompok patokan, sedangkan
lawan dinilai menurut patokan itu.
Agama Islam dan Kristen di
Indonesia, merupakan agama samawi (revealed religion), yang meyakini terbentuk
dari wahyu Ilahi Karena itu memiliki rasa superior, sebagai agama yang berasal
dari Tuhan.
Di beberapa tempat terjadinya
kerusuhan kelompok masyarakat Islam dari aliran sunni atau santri. Bagi
golongan sunni, memandang Islam dalam keterkaitan dengan keanggotaan dalam
umat, dengan demikian Islam adalah juga hukum dan politik di samping agama.
Islam sebagai hubungan pribadi lebih dalam artian pemberlakuan hukum dan oleh
sebab itu hubungan pribadi itu tidak boleh mengurangi solidaritas umat, sebagai
masyarakat terbaik di hadapan Allah. Dan mereka masih berpikir tentang
pembentukan negara dan masyarakat Islam di Indonesia. Kelompok ini begitu
agresif, kurang toleran dan terkadang fanatik dan malah menganut garis keras
Karena itu, faktor perbedaan
doktrin dan sikap mental dan kelompok masyarakat Islam dan Kristen punya andil
sebagai pemicu konflik.
B. Perbedaan Suku dan Ras Pemeluk Agama
Tidak dapat dipungkiri bahwa
perbedaan ras dan agama memperlebar jurang permusuhan antar bangsa. Perbedaan
suku dan ras ditambah dengan perbedaan agama menjadi penyebab lebih kuat untuk
menimbulkan perpecahan antar kelompok dalam masyarakat.
Contoh di wilayah Indonesia,
antara Suku Aceh dan Suku Batak di Sumatera Utara. Suku Aceh yang beragama
Islam dan Suku Batak yang beragama Kristen; kedua suku itu hampir selalu hidup
dalam ketegangan, bahkan dalam konflik fisik (sering terjadi), yang merugikan
ketentraman dan keamanan.
Di beberapa tempat yang terjadi
kerusuhan seperti: Situbondo, Tasikmalaya, dan Rengasdengklok, massa yang
mengamuk adalah penduduk setempat dari Suku Madura di Jawa Timur, dan Suku
Sunda di Jawa Barat. Sedangkan yang menjadi korban keganasan massa adalah
kelompok pendatang yang umumnya dari Suku non Jawa dan dari Suku Tionghoa.
Jadi, nampaknya perbedaan suku dan ras disertai perbedaan agama ikut memicu
terjadinya konflik.
C. Perbedaan Tingkat Kebudayaan
Agama sebagai bagian dari
budaya bangsa manusia. Kenyataan membuktikan perbedaan budaya berbagai bangsa
di dunia tidak sama. Secara sederhana dapat dibedakan dua kategori budaya dalam
masyarakat, yakni budaya tradisional dan budaya modern.
Tempat-tempat terjadinya
konflik antar kelompok masyarakat agama Islam - Kristen beberapa waktu yang
lalu, nampak perbedaan antara dua kelompok yang konflik itu. Kelompok
masyarakat setempat memiliki budaya yang sederhana atau tradisional: sedangkan
kaum pendatang memiliki budaya yang lebih maju atau modern. Karena itu bentuk
rumah gereja lebih berwajah budaya Barat yang mewah.
Perbedaan budaya dalam kelompok
masyarakat yang berbeda agama di suatu tempat atau daerah ternyata sebagai
faktor pendorong yang ikut mempengaruhi terciptanya konflik antar kelompok
agama di Indonesia.
D. Masalah Mayoritas da Minoritas Golongan Agama
Fenomena konflik sosial
mempunyai aneka penyebab. Tetapi dalam masyarakat agama pluralitas penyebab
terdekat adalah masalah mayoritas dan minoritas golongan agama.
Di berbagai tempat terjadinya
konflik, massa yang mengamuk adalah beragama Islam sebagai kelompok mayoritas;
sedangkan kelompok yang ditekan dan mengalami kerugian fisik dan mental adalah
orang Kristen yang minoritas di Indonesia. Sehingga nampak kelompok Islam yang
mayoritas merasa berkuasa atas daerah yang didiami lebih dari kelompok
minoritas yakni orang Kristen. Karena itu, di beberapa tempat orang Kristen
sebagai kelompok minoritas sering mengalami kerugian fisik, seperti:
pengrusakan dan pembakaran gedung-gedung ibadat.
SOLUSI MENGATASI KONFLIK
1. Konflik Itu Harus di
Management Menuju Rekonsiliasi
Konflik memang bukan sesuatu
yang diharapkan oleh setiap orang yang hidup di dunia ini. Apa lagi konflik
yang bernuansa karena perbedaan agama yang dianut dan pebedaan etnis. Konflik
yang demikian itu memang suatu konflik yang sangat serius. Untuk meredam wajah
bahaya dari konflik itu, maka konflik itu harus dimanagement agar ia berproses
ke arah yang positif. Dr. Judo Poerwowidagdo, MA. Dosen Senior di Universitas
Duta Wacana Yogyakarta menyatakan bahwa proses konflik menuju arah yang positif
itu adalah sbb: Dari kondisi yang “Fight” harus diupayakan agar menuju Flight. Dari kondisi Flight diupaykan lagi agar dapat
menciptakan kondisi yang Flaw.
Dari Flaw
inilah baru diarahkan menuju kondisi Agreement, terus ke Rekonsiliasi. Karena itu, masyarakat
terutama para pemuka agama dan etnis haruslah dibekali ilmu Management
Konflik setidak-tidaknya untuk tingkat dasar.
2. Merubah Sistem
Pemahaman Agama.
Konflik yang bernuansa
agama bukanlah karena agama yang dianutnya itu mengajarkan untuk konflik.
Karena cara umat memahami ajaran agamanyalah yang menyebabkan mereka menjadi
termotivasi untuk melakukan konflik. Keluhuran ajaran agama masing-masing
hendaknya tidak di retorikakan secara berlebihan. Retorika yang berlebihan
dalam mengajarkan agama kepada umat masing-masing menyebabkan umat akan merasa
dirinya lebih superior dari pemeluk agama lain. Arahkanlah pembinaan kehidupan
beragma untuk menampilkan nilai-nilai universal dari ajaran agama yang dianut.
Misalnya, semua agama mengajarkan umatnya untuk hidup sabar
menghadapi proses kehidupan ini. Menjadi lebih
tabah menghadapi berbagai AGHT (ancaman, gangguan, hambatan dan
tantangan) dalam menghadapi hidup ini. Rela
berkorban demi kepentingan yang lebih mulia. Tidak mudah putus asa
memperjuangkan sesuatu yang benar dan adil. Tidak mudah mabuk atau lupa diri
kalau mencapai sukses. Orang yang sukses seperti menjadi kaya, pintar, menjadi
penguasa, cantik, cakep, memiliki suatu power, merasa diri bangsawan. Semuanya
itu dapat menyebabkan orang menjadi mabuk kalau kurang waspada membawa diri. Hal-hal
yang seperti itulah yang sesungguhnya lebih dipentingkan oleh masyarakat bangsa
kita dewasa ini.
3. Mengurangi Penampilan
Berhura-Hura dalam Kehidupan Beragama.
Kegiatan beragama seperti
perayaan hari raya agama, umat hendaknya mengurangi bentuk perayaan dengan
penampilan yang berhura-hura. Seperti menunjukan existensi diri secara
berlebihan, bahwa saya adalah umat yang hebat dan besar banyak pengikut
dll. Hal ini sangat mudah juga memancing konflik. Karena umat lain juga dapat
terpancing untuk menunjukan existensi dirinya bahwa ia juga menganut agama yang
sangat hebat dan luhur.
4. Jangan Menyalah Gunakan
Jabatan Demi Agama.
Banyak oknum Pejabat
kadang-kadang menjadikan jabatanya itu sebagai kesempatan untuk berbuat tidak
adil demi membantu pengembangan agama yang dianut oleh pejabat
bersangkutan. Dan menjadikan jabatanya itu sebagai media melakukan hal-hal yang
hanya menguntungkan umat agama yang dianutnya.
5. Redam Nafsu Distinksi
Untuk Menghindari Konflik Etnis.
Setiap manusia memiliki nafsu
atau dorongan hidup dari dalam dirinya. Salah satu nafsu itu ada yang disebut
nafsu Distinksi.
Nafsu Distinksi ini mendorong seseorang untuk menjadi lebih dari yang lainya.
Kalau nafsu ini dikelola dengan baik justru akan membawa manusia menjadi siap
hidup bersaing. Tidak ada kemajuan tanpa persaingan. Namun, persaingan itu
adalah persaingan yang sehat. Persaingan yang sehat itu adalah persaingan yang
berdasarkan noram-norma Agama, norma Hukum dan norma-norma kemanusiaan yang
lainya. Namun, sering nafsu Distinksi ini menjadi dasar untuk mendorong suatu
etnis bahwa mereka adalah memiliki berbagai kelebihan dari etnis yang
lainya. Nafsu Distinksi ini sering membuat orang buta akan berbagai
kekuranganya. Hal inilah banyak orang menjadi bersikap sombong dan
exlusive karena merasa memiliki kelebihan etnisnya.
Untuk membangun
kebersamaan yang setara, bersaudara dan merdeka
mengembangkkan fungsi, profesi dan posisi, maka dalam hubungan dengan sesama
dalam suatu masyarakat ada baiknya kami sampaikan pandangan Swami Satya
Narayana sbb: “Agar hubungan sesama manusia menjadi harmonis, seriuslah melihat
kelebihan pihak lain dan remehkan kekuarangannya. Seriuslah melihat kekurangan
diri sendiri dan remehkan kelebiihan diri”.
Dengan demikian semua pihak
akan mendapatkan manfaat dari hubungan sosial tersebut. Di samping
mendapatkan sahabat yang semakin erat, juga mendapatkan tambahan
pengalaman positif dari sesama dalam pergaulan sosial. Dengan melihat
kelebiihan sesama maka akan semakin tumbuh rasa persahabatan yang semakin
kekal. Kalau kita lihat kekurangannya maka kita akan terus merasa jauh
dengan sesama dalam hubungan sosial tersebut.
Semoga
Bermanfaat……… !
kiramerara@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar